Senin, 01 Agustus 2011

Misteri Ka'bah menggegerkan NASA

Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.



Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.”



Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.



Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.


Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.


Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu lah ketika kita mengelilingi Ka’Bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.


Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut ( dari Ka’Bah ) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bersabda :
"Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam"

Kecanduan GPS Sebabkan Kerusakan Otak?


Peneliti dari McGill University melakukan riset yang mengamati pengaruh sistem GPS terhadap otak manusia. Ternyata, pengguna yang keranjingan GPS memiliki risiko menderita masalah dengan daya ingat dan orientasi ruang.

Veronique Bohbot, seorang associate professor di Douglas Mental Health University dan McGill University, beserta sejumlah peneliti dari McGill menemukan bahwa mereka yang sering memakai GPS untuk menunjukkan arah berpotensi mengalami kerusakan di kawasan otak yang mengontrol daya ingat.

Otak manusia umumnya melakukan navigasi menggunakan dua metode. Pertama, adalah strategi navigasi spasial di mana bangunan atau tanda tertentu dimanfaatkan otak untuk membantu kita mengetahui arah ataupun di mana kita berada.

Kedua, adalah strategi respon terhadap stimulus di mana kita seolah berkendara dalam modus ‘auto-pilot’ yang dapat membuat kita berbelok di tempat-tempat tertentu. Modus ‘auto-pilot’ ini dimungkinkan karena pengulangan-pengulangan yang kita lakukan disimpan oleh tubuh yang kemudian akan otomatis menyatakan belokan tersebut merupakan jalan terbaik yang akan mengantarkan kita ke tujuan.

Strategi kedua lebih erat hubungannya dengan bagaimana cara pengguna GPS melakukan navigasi.

Saat functional Magnetik Resonance Imaging atau fMRI melakukan tugasnya dalam melakukan navigasi menggunakan kedua metode yang dimiliki otak, orang yang biasa menggunakan strategi navigasi spasial mengalami peningkatan aktivitas di kawasan otak yang berhubungan dengan daya ingat dan navigasi, yang disebut dengan hippocampus.

Peneliti McGill menemukan bahwa penggunaan GPS secara berlebihan akan menghentikan perkembangan hippocampus sejalan dengan bertambahnya usia. Ini meningkatkan risiko munculnya masalah kognitif seperti Alzheimer di usia lanjut.

Sebagai informasi, Alzheimer mempengaruhi hippocampus lebih dulu sebelum menyerang bagian otak lainnya yang mengakibatkan kerusakan daya ingat dan disorientasi.

Hasil penelitian ini tidak mendorong orang untuk membuang GPS yang ia miliki. Akan tetapi, pengguna disarankan sebaiknya tidak selalu bergantung pada alat penunjuk arah tersebut.

“Kita hidup di komunitas dengan mobilitas sangat tinggi yang membuat kita sangat menyesal jika kita tersasar,” kata Bohbot. “Yang ingin saya katakan adalah kita bisa menggunakan GPS untuk mengeksplorasi tempat-tempat baru, tetapi jangan menjadi ketergantungan. Menggunakan peta kognitif otak mungkin membutuhkan waktu, akan tetapi hasilnya cukup sepadan,” ucap Bohbot, seperti dikutip dari DailyTech, 19 November 2010.

Facebook Picu Tren Narsisme


Bangun tidur langsung login ke Facebook, memposting setiap detail dari kehidupan seseorang, memajang foto, video, dan mengupdate status merupakan hal yang sangat lumrah bagi jutaan pengguna situs jejaring sosial tersebut.

Dengan jumlah yang telah melebihi 750 juta pengguna, kini generasi muda sampai manula sudah saling berkawan dan menyampaikan pada dunia setiap detail dalam hidup mereka, dan juga berharap ada tanggapan untuk setiap posting yang mereka lakukan.

‘Privacy’ sendiri tampaknya sudah merupakan konsep yang kuno akibat adanya jejaring sosial.

Dikutip dari Med India, 1 Agustus 2011, peneliti menyebutkan, mereka yang secara konstan memposting gambar dan update terhadap aktivitas mereka sebenarnya mencari tanggapan ataupun komentar terhadap apapun yang mereka posting. Hal ini serupa dengan anak kecila yang secara terus menerus mencari pujian dan tanggapan.

Pengguna Twitter, situs jejaring sosial lain yang memungkinkan orang memposting pikiran, komentar, dan tanggapan mereka terhadap berbagai hal, sebenarnya juga mendorong orang untuk tetap berada di dunia virtual. Praktek ini berpotensi memutuskan mereka dari kehidupan di dunia nyata.

Peneliti menyebutkan, tren seperti ini sangat berbahaya karena ia bisa menghambat kemampuan orang untuk berkomunikasi dengan baik di dunia nyata, dan juga bisa memicu krisis identitas. Lebih lanjut, pengguna bisa mengalami penurunan konsentrasi, rentang perhatian pendek dan menjadikan mereka orang-orang yang terobsesi dengan dirinya sendiri, yang terus-menerus mencari sanjungan dari teman-teman virtual mereka.

Sejarah Penamaan Java


Java merupakan bahasa pemrograman pertama yang tidak terikat pada sistem operasi tertentu. Aplikasi yang ditulis dalam bahasa Java akan dapat dijalankan di mana saja.
Hal ini telah menghilangkan masalah yang selama ini membuat sakit kepala bagi para pengguna komputer, dikarenakan ketidakcocokan antara sistem operasi, versi, dalam aplikasi dan sistem operasi.
Selanjutnya....